Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

SEJARAH NAMA ALLAH

GAPURA HOMEPAGE HIV AIDS DI INDONESIA [FAKTA dan DATA] MEMBANGUN PAPUA YESUS BENAR-BENAR ADA SINISME TERHADAP AGAMA ASAL USUL AGAMA FUNDAMENTALISME AGAMA FUNDAMENTALISME KRISTEN KEESAAN DALAM ISLAM FUNDAMENTALISME ISLAM YUDAISME GURITA CIKEAS SEJARAH POLISI PENJARA Dr IOANES RAKHMAT Vs Dr. WENDI ZARMAN PENGILAHIAN MANUSIA SANTRI RASIALIS ALLAH HANYA UNTUK ISLAM SEJARAH NAMA ALLAH MUSLIM MEMILIH PEMIMPIN BEDA AGAMA ANTI PANCASILA ARAB PRA ISLAM MEMILIH PEMIMPIN MENURUT AJARAN ISLAM BUKAN TEROR KAUM SORBAN - SARUNG - PECI NASKAH AL-QURAN ARAB PRA-ISLAM HAL-HAL YANG MERUSAK AGAMA DI NUSANTARA FM RADIO




 

NO ONLINE
Sejak beberapan tahun yang lalu, beberapa kolompok Mahzab Kristen, mempersoalkan “Allah” yang ada atau dipakai oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Mereka menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Kata “Allah” seharunya tak perlu disebut oleh orang Kristen, karena bertantangan dengan Sejarah Iman.

 

Dalam rangka menyebarkan penolakan itu, mereka telah melakukan penerjemahan dan percetakan Alkitab (diluar Lembaga Alkitan Indoensia dan Lembaga Biblika Indonesia) tanpa atau tidak ada lagi penggunaan kata Allah.

Konsep pikir meraka adalah, Allah, Al-allah, El-Ilah, Illah, bukan merupakan Sang Khalik yang disembah, diimani oleh Bapa-bapa Leluhur umat beriman atau orang percaya pada masa lalu.

Oleh sebab itu, mereka atau kelompok-kelompok yang menolak kata “Allah” memang ber­pendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat kristiani.

Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim; juga ada pula yang mengait­kannya dengan dewa-dewi bangsa Arab.

Sayangnya, mereka pun belum bisa menjawab hasil telaah dan temuan Kritik Historis dan hasil Hermenutika/tis terhadap Kitab Suci, yang menunjukan bahwa kata-kata ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM sduah ditemukan jauh sebelum lahirnya agama-agama Samawi.

Ada inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).

Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1).

Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).

Terjemahan W.A. Bode (193 : “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara. Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menye­but nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ”KYRIOS menggembala­kan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pen­cobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ’ADONAY (‘TUHAN’) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani per­dana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingat­kan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan ­dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah mening­gal­kan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pem­bedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak memper­tahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheits­übersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumé­ni­que de la Bible).

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjan­jian Baru) dan tafsirannya.

Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.

Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies).

Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik mau­pun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17).

Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

sabda.org.id


 

 



SEJARAH RINGKAS PEMAKAIAN KATA TUHAN Allah
Oleh Jappy Pellokila

 

 

Pada setiap agama mempunyai sasaran atau tujuan penyembahan atau Sesuatu Yang Ilahi dan disembah. Ia bisa disebut TUHAN, Allah, God, Dewa, Ilah, Lamatu’ak, Debata, Gusti Pangeran, Deo, Theos atau penyebutan lain sesuai dengan konteks dan bahasa masyarakat yang menyembah-Nya. Konsekuensinya, adalah mereka percaya bahwa IA, YANG ILAHI itu, benar-benar ada. Ini berarti pada masing-masing komunitas, menyebut  Ilahi sesuai dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.

Dengan demikian di tengah-tengah hidup dan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia, yang mempunyai ratusan suku serta sub-suku dengan bahasanya masing-masing, ada banyak nama untuk menyebut Sang Ilahi. Tiap suku [mungkin saja sub-suku] menyebut-Nya sesuai bahasa mereka. Artinya, ada ratusan nama untuk Dia, Sang Pencipta dan Maha Esa serta Maha Kuasa. Ketika bangsa-bangsa Eropa menyebar agama Kristen [Katolik dan Protestan] ke Nusantara [melalui pintu masuk Malaka, Banten, Sunda Kelapa, Ambon, dan kemudian Flores],  mereka berupaya agar bagian-bagian Alkitab dapat dimengerti melalui bahasa-bahasa yang dipakai rakyat pada masa itu. Sedangkan pada masa itu, Alkitab yang mereka bawa berbahasa Ibrani dan Yunani serta beberapa bahasa di Eropa, misalnya Latin, Inggris, dan Jerman.

Oleh sebab itu, ada upaya memperkenalkan ayat-ayat Alkitab dan ajaran keagamaan kepada penduduk Nusantara, terutama Siapa yang disembah dalam agama Kristen. Itu berarti Alkitab harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang dipakai oleh penduduk Nusantara. Pada tahun 1612 M, dimulai penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu [pilihan utama pada bahasa Melayu, karena dipakai secara umum oleh sebagian besar penduduk Nusantara]. Tujuh belas tahun kemudian, diterbitkan Alkitab Bahasa Melayu, dan dipergunakan secara resmi oleh orang Kristen dan gereja-gereja di Nusantara.

Pada waktu berlangsungnya proses penerjemahan, timbul semacam kesulitan untuk menerjemahkan Nama yang disembah pada agama Kristen, ke bahasa dan dialek Melayu. Kesulitan tersebut karena ada banyak Nama untuk menyebut Ilahi dalam bahasa suku dan sub-suku. Di samping itu, agama Islam [yang telah berkembang di Nusantara] telah memperkenalkan nama Allah, sebagai Yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Pencipta segala sesuatu. Untuk mencegah perbedaan agama-agama dan dengan alasan kesamaan, para penyebar agama Kristen dari Eropa memakai penyebutan yang sama, yaitu Allah. Situasi itu berlangsung terus hingga penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian, nama Allah digunakan sebagai sebutan untuk menyebut pusat dan tujuan penyembahan dalam agama Kristen. Nama yang dipergunakan tersebut, sama dengan yang dipakai dalam agama Islam. Dan dengan itu, berkembang suatu pemahaman bersama, bahwa Allah yang disembah dalam agama-agama, terutama agama Islam, sama dengan dipercayai pada kekristenan.

Pada masa kini, sesuai bahasanya, bangsa Indonesia menyebut nama Yang Ilahi, dengan sebutan-sebutan TUHAN; Allah; TUHAN Allah, bahkan Allah TUHANku. Hampir semua agama-agama di Indonesia memakai penyebutan tersebut. Demikian juga agama Kristen di Indonesia, menerima penyebutan itu sebagai sapaan terhadap Yang Ilahi, sehingga, bangsa Indonesia [yang sering menyebut diri sebagai bangsa yang beragama]. Dan, seringkali terdengar kata-kata yang muncul dari orang Indonesia, bahwa ia percaya TUHAN; ia adalah umat Allah; saya sebagai hamba Allah; agama Allah; saya percaya kepada TUHAN Yang Maha Esa, dan lain sebagainya. Pemakaian kata TUHAN, Allah, atau TUHAN Allah pada agama-agama di Indonesia, melalui perjalanan sejarah yang rumit dan cukup panjang.

Kata TUHAN, Tuhan, dan Allah, [lepas dari atribut Ilahinya] masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, karena pengaruh bahasa-bahasa Semit [misalnya bahasa Aram, Ibrani, Arab] dan Melayu. Bahasa Semit adalah bahasa-bahasa yang dipakai oleh masyarakat Timur Tengah pada masa lalu sampai sekarang. Dan harus dipahami juga bahwa Kitab-kitab Suci [dan bagian-bagiannya] agama-agama Samawi, pada awalnya, ditulis dalam bahasa-bahasa Semit.  Dan kemudian bahasa Yunani. Pengaruh bahasa dan dialek Melayu, karena dipakai [sebagai bahasa pergaulan] oleh hampir semua suku dan sub-suku di Semenanjung Malaysia, Thailand Selatan dan Kepulauan Nusantara.

EL. Pada masyarakat Timur Tengah Kuno, ada banyak penyebutan untuk menyebut Sang Ilahi. Penyebutan tersebut, juga sesuai dengan konteks budaya, sosial, bahasa yang dipakai. Siapapun nama atau apapun sebutannya, menunjuk pada Pribadi super natural dan non material, yang diyakini ada; serta akibat dari keberadaan-Nya dirasakan oleh umat manusia. Beberapa orang dari antara masyarakat Timur Tengah Kuno, misalnya Abraham, Ishak, Yakub, sesuai dengan bahasa Aram yang mereka gunakan, memakai kata El untuk menyebut Ilahi.

Pada bangsa-bangsa berbahasa Semitik El, artinya Yang kuat dan Maha kuasa; El merupakan Ilah pribadi dan komunitas, berbeda dengan ilah-ilah lain. El mempunyai ikatan erat dengan yang menyembah-Nya. Sehingga, jika seseorang menyembah El, maka ia dilarang menyembah ilah-ilah lain. Sehingga, mudah dipahami jika ada penyebutan Eloheey-Abraham, Eloheey-Ishak, Eloheey-Yakub pada Alkitab bahasa Ibrani; jadi, bukan Elohym Abraham, Elohym Ishak, Elohym Yakub; dalam Alkitab bahasa Indonesia menjadi Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub. El merupakan bentuk tunggal atau esa; sedangkan kata Elohim berbentuk jamak. Semuanya itu, sekaligus menunjukkan bahwa sejak dulu-kala,  sebelum ada sistem ajaran agama-agama seperti sekarang, Abraham, Ishak, Yakub telah melakukan penyembahan yang bersifat monoteis atau bahkan mono-religius.

Penyembahan yang monoteis, melahirkan atau mengalami perkembangan oleh agama-agama yang muncul kemudian di Timur Tengah. Misalnya. Yudaisme, Kristen, Katolik, dan kemudian Islam. Agama-agama yang menyembah Ilahi yang monoteis tersebut, kemudian berkembang ke pelbagai penjuru dunia, termasuk sampai ke Nusantara [nama Indonesia sebelum kemerdekaan].

ALLAH. Kata Allah sudah ada dan dikenal masyarakat Timur Tengah sebelum muncul agama-agama. Misalnya, Abraham, Ishak, Yakub sudah menyembah El yang Esa [Alkitab bahasa Indonesia, menggunakan kata Allah].  Demikian juga, suku Hanif di jazirah Arab, sebelum ada agama, mereka sudah melakukan penyembahan bersifat monotheis. Penduduk kota Mekah [sebelum munculnya Agama Islam] juga mempunyai keyakinan pada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi; mengatur tata surya; menguasai iklim dan musim, dan lain sebagainya.

Kata Allah berasal dari kata-kata rumpun bahasa Aram, yaitu Al dan Ilah.  Kata Ilah diartikan sebagai TUHAN yang disembah dan Yang Maha Kuasa. Penambahan kata sandang Al, sehingga menjadi Al-Ilah. Kata Allah dipakai sebagai penyebutan nama Pribadi untuk menyebut Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Pencipta Alam semesta.

YHWH dan TUHAN. “Selanjutnya berfirmanlah Allah, kepada Musa, “… TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun,” Kel 3:15.  Allah [Ibrani, El] yang berfirman kepada Musa, memperkenalkan Diri-Nya sebagai TUHAN; artinya AKU ADALAH AKU, atau AKULAH AKU.

Dalam Alkitab bahasa Ibrani, kata YHWH, ditulis tanpa huruf hidup; sehingga sampai saat ini, sulit mengeja atau membacanya dengan pasti [ada usulan agar membaca YHWH dengan kata YAHWEH, Yahweh, Jahova, atau pun Yahoba]. Menurut Allah yang berfirman kepada Musa tersebut, IA adalah El-Abraham, El-Ishak, El-Yakub. Atau Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub adalah YHWH yang sekarang memperkenalkan Diri-Nya kepada Musa. Jadi, nama El yang disembah itu adalah YHWH.

Demikian juga rangkaian pemakaian kata-kata TUHAN dan Allah dalam Ulangan 6:1-26 [Alkitab LAI, TB, 1974]. Secara khusus ayat 4 dan 5 berbunyi “…  TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dalam terjemahan Ibrani, dan hampir semua kata-kata TUHAN dalam pasal ini digunakan kata YHWH; dan kata-kata Allah adalah El. Di sini, sekali lagi terungkap bahwa TUHAN [YHWH] adalah Allah [El] yang disembah oleh umat pada masa itu.

Dengan demikian, ada beberapa catatan, 1Nama Pribadi dari Allah yang disembah adalah TUHAN [YHWH], artinya Tuan yang empunya  atau memiliki segala sesuatu; 2TUHAN telah diimani dan sembah oleh orang-orang beriman sejak dulu kala, sebelum ada agama-agama; 3kata TUHAN yang dimaksud Alkitab tidak sama pemakaiannya dalam Pancasila [sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa]. Tuhan dalam Pancasila, hanya penyebutan umum, yang bermakna bahwa bangsa Indonesia percaya kepada  Tuhan; 4hal yang sama dalam kalimat “tiada Tuhan selain Allah,” di sini, kata TUHAN digunakan sebagai sebutan Nama dari Allah [Al-Ilah] yang diimani dan disembah.

TUHAN Allah. Dalam Alkitab [LAI, TB], pemakaian kata TUHAN Allah [Alkitab bahasa Ibrani, YHWH EL] sebanyak 57 kali dan  hanya pada PL; sedangkan kata Tuhan Allah, sebanyak 9 kali [satu kali dalam PL dan 8 kali di PB]. Pemakaian tersebut diterjemahkan dari YHWH El [bahasa Ibrani] dan Kyrios Theos [bahasa Yunani]. Semuanya menunjukkan bahwa Allah yang dipercaya dan disembah oleh orang beriman adalah TUHAN.Yesus Kristus  juga mengajarkan hal yang sama, dalam Mat 22:37, ketika Ia mengajarkan tentang kasih, Yesus berkata, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,” merupakan kutipan dari “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”, Ul 6:5. Di sini, yang Yesus maksudkan dengan Tuhan adalah sama dengan TUHAN yang disebut dalam Ulangan 6:5. Hal tersebut, mudah dipahami karena Yesus mendapat didikan, bimbingan dan warisan ajaran dari Torah tentang TUHAN. Sehingga Ia pun mengajar  hal yang sama kepada para pengikut-Nya atau orang banyak.

Penyebutan dan penulisan TUHAN, Allahmu atau Tuhan, Allahmu [ada tanda koma antara TUHAN dan Allah] dalam Alkitab, selalu menunjukkan bahwa nama Allah yang menjadi pusat penyembahan orang percaya adalah TUHAN.  Pelepasan tanda koma atau penggabungan kata TUHAN dan Allah menjadi TUHAN Allah serta Tuhan Allah; telah dilakukan oleh para penulis kitab-kitab dalam Alkitab, sebelum ada agama Kristen.

Penggabungan itu, bukan karena sekedar untuk keindahan kata, melainkan bermakna teologis. TUHAN [YHWH] adalah Nama Pribadi dari Allah yang disembah; sedangkan penyebutan Allah untuk Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Pencipta Alam semesta. Jadi, penyebutan TUHAN Allah, bermakna IA adalah TUHAN, Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Pencipta, dan penuh dengan kekuatan serta kemampuan Ilahi. Sehingga jika seseorang menyebut Nama-Nya itu, maka ia harus mencapai pangakuan bahwa Dia adalah TUHAN Allah.

Implikasi pengakuan pada Dia sebagai TUHAN Allah harus terlihat di tengah-tengah hidup dan kehidupan orang yang percaya kepada-Nya. Misalnya, pengakuan bahwa TUHAN itu Allah, TUHAN itu Esa,”

 

[tulisan ini BELUM Rampung]  

 

 



PENGGUNAAN KATA 'ALLAH' BAGI SANG PENCIPTA

Awalnya kata ALLAH digunakan oleh orang-orang kafir di Mekah sebelum Muhammad lahir. Juga oleh orang  Kristen Arab yang hidup sebelum zaman Islam, memakai nama ALLAH untuk Sang Pencipta.

Saat ini orang Kristen Arab, Yahudi, Roma Katolik Malta, Kristen Indonesia dan Malaysia memakai kata “ALLAH” bagi Pencipta.

Namun akhir-akhir ini kita banyak mendengar perdebatan mengenai siapakah yang berhak menggunakan nama ALLAH. Hal ini membawa kita pada masalah terpenting.

KATA ‘ALLAH’ BERASAL DARI BAHASA SEMITIK

Penulis Muslim telah menggunakan ALLAH dalam kutipan mereka dari Alkitab Kristen sejak abad XIX Masehi. Sarjana Yahudi juga telah menerjemahkan elohim dan elah menjadi  ALLAH karena terjemahan bahasa Arab dikenal paling awal dari Taurat pada abad XIX Masehi hingga saat ini. Jadi terlepas dari perbedaan nyata dalam bagaimana ALLAH dipahami sesuai dengan isi Alkitab dan Alquran, Yahudi, Kristen dan Muslim yang berbahasa Arab bersama-sama telah memahami Tuhan sebagai "ALLAH" yang berarti "Tuhan Monotheisme Abraham/Ibrahim"  selama 14 abad terakhir. (Catatan: Talmud Yahudi selasai ditulis pada abad XIX Masehi di Babylon Irak yang bahasa sehari-harinya Aram-Arab)

Kerancuan mungkin terjadi bila berusaha membandingkan kata ALLAH dengan nama ilah pre-Islamic era. Sehingga bila mau membuat perbandingan yang setara, haruslah dibandingkan antara nama ALLAH dalam Kristen Arab dan ALLAH dalam Islam Arab, sehingga tidak terjadi kerancuan.

Coba kita simak wejangan Dr Olaf Schuman, teolog Kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Ashar di Kairo: 

"Memang tidak dapat disangkal adanya masalah. Namun, yang menjadi masalah adalah soal dogmatika atau akidah, sebab tiga agama itu (Yudaisme, Kristen, Islam) mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai ALLAH yang sama, baik hakikatnya maupun pula mengenai cara penyataan dan tindakan-tindakannya." (kutipan dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177).

 

Komponen dalam tulisan Arab untuk membantu kata "Allah"

1. alif

2. hamzat waṣl (همزة وصل)

3. lām

4. lām

5. shadda (شدة)

6. dagger alif (ألف خنجرية)

7. hāʾ

 

Allāh (Arab: الله, Allaah) adalah kata dalam bahasa Arab yang merujuk pada nama Tuhan.

Kata “ALLAH” berasal dari bahasa Semitik, yang merujuk kepada Sem, putra nabi Nuh. Bahasa Semitik juga merupakan kelompok bahasa yang terdiri dari bahasa Arab, Amhar,dan Ibrani. Kata ini sendiri di kalangan para penutur bahasa Arab, adalah kata yang umum untuk menyebut Tuhan ["tuhan" dalam bahasa Arab adalah Ilah], terlepas dari agama mereka, termasuk penganut Yahudi dan Kristen Arab.

Konsekuensinya, kata ini digunakan dalam terjemahan kitab suci agama Kristen danYahudi yang berbahasa Arab, demikian pula terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dan Turki.

Nama ALLAH terdiri dari Al (Sang) dan Ilah (Tuhan). Artinya: Ilahi yang satu (Monotheism)

Nama ALLAH sudah ada sejak adanya bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia di mana rumpun Semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El atau Il sebagai nama dewa tertinggi dalam kuil-kuil Babilonia namun bagi sebagian besar keturunan Sem (di mana nama rumpun Semitik berasal) nama itu dimengerti sebagai Tuhan Yang Mahaesa Pencipta Langit dan Bumi.

Ensiklopedia Islam menyebut bahwa: "Gagasan tentang Tuhan yang Esa yang disebut dengan nama ALLAH, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno…..kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah Hunafa, sebuah kata yang pada asalnya ditunjukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail." (hal. 50-51).

Kata Aram untuk "ALLAH" dalam bahasa  Kristen Assyria (Syria) adalah Elaha, atau Alaha. Catatan tertua pada abad 2 SM menyebutkan, keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah yang dikenal sebagai kaum Hanif (jamak: Hunafa) menyebut nama "ALLAH" sejak berkembangnya bahasa Arab.

Penutur bahasa Arab dari semua agama Ibrahim, termasuk Yahudi , Kristen dan Islam , menggunakan kata "ALLAH" berarti "Tuhan". Orang Kristen Arab saat ini tidak memiliki kata lain untuk "ALLAH" sebagai pengganti "ALLAH". Bahkan Arab keturunan Malta yang berbahasa Malta, yang penduduknya hampir seluruhnya Katolik Roma, menggunakan Alla untuk "ALLAH".

Namun, untuk membedakan dengan umat Islam, Arab Kristen saat ini menggunakan istilah-istilah seperti 

  1. Allāh al-ab (الله الأب) berarti ALLAH Bapa
  2. Allāh ibn al-(الله الابن) berarti ALLAH Anak,
  3. Allāh al-Ruh al-Quds (الله الروح القدس) berarti ALLAH Roh Kudus . 

Perlu disadari bahwa inskripsi di Arab Utara (Sabean, Lihyan, Tamudic, Safaitic) menunjukan bahwa Lihyan merupakan pusat penyembahan "ALLAH" dan di sana berkembang dialek-dialek Arab yang mana ada yang menggunakan kata sandang "al", tetapi juga "ha" untuk menunjukkan Tuhan yang satu itu.

Winnet dalam penelitiannya atas inskripsi Lihyan menyebutkan bahwa pujian kepada ALLAH dalam inskripsi itu bersifat netral dan bisa diarahkan kepada tuhan apa saja tetapi teks Lihyan menunjukan adanya kata kunci "abtar" yang hanya ada dalam Al-Qur'an (QS.108) yang mengarah kepada 'ALLAH yang Esa dan Kekal' (QS.112).

Selain dalam inskripsi dan nama, sejak awal Injil bahasa Arab juga menggunakan nama "ALLAH". Alkitab Peshita dalam bahasa Aram ditulis pada abad ke-2 di mana El/Elohim/Eloah Ibrani ditulis "Elah/Alaha". Seperti diketahui dari inskripsi Lihyan abad ke-5/6 dan sejarah bahasa bahwa "Alaha" Aram menurunkan "ALLAH" Arab Nabatea dan bahasa Arab.

 "Inskripsi Arab utara. …Nama-nama ALLAH pertama menjadi umum di teks Lihyan. …Bukti ditemukannya nama ALLAH menunjukan bahwa Lihyan adalah pusat penyembahan ALLAH di Arab. " Orang Siria menekankan kata benda umum "ALLAH" ('a' kecil) menjadi nama diri dengan menambahkan nama elemen "a" : ALLAHa = "the god" lalu menjadi "God" ketika orang Lihyan mengambil alih nama diri ALLAHa, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen "a" sehingga menjadi ALLAH.

(F.V.Winnet, ALLAH before Islam, dalam The Muslim world, Vol.38,1938,hlm.245-248).

Dalam injil Tomas dari abad ke-2 M, ada cerita mengenai ALLAH yang mengizinkan Yesus membuat mujizat burung dari tanah liat yang akhirnya dikutip dalam injil Anak-anak apokrif dalam bahasa Arab 'injilu't Tufuliyyah' dan kemudian diceritakan dalam Alquran (QS 5 110).

Data Alquran sendiri mendukung adanya penggunaan nama 'ALLAH' sebelumnya dan menyebut bahwa pada masa Islam, di Gereja dan sinagoga sudah banyak disebut nama'ALLAH', itu berarti bahwa pada masa pra-Islam nama 'ALLAH' sudah digunakan oleh umat Yahudi dan Kristen.

Sebelum menjadi nabi bagi umat MuslimMuhammad pernah berelasi dengan biarawan Nestorian (agama  Kristen) Waraqah ibn Nawfal yang merupakan sepupu Khadijah (Isteri Muhammad).

Banyak prasasti berisi nama ALLAH telah ditemukan di Utara dan Selatan Saudi pada awal abad ke-5 SM, termasuk LihyaniticThamudic dan prasasti  Arab Selatan.  

Inskripsi Lihyan abad ke-5/6 SM (Sebelum Masehi) berada di Arab utara berasal dari bahasa Nabatea Arami yang letaknya tidak jauh dari Yerusalem yang dikenal Kitab Ezra dan Daniel yang sezaman yang memuat nama Aram "Alaha" yang ditujukan kepada "Elah Yisrael" / ALLAH Israel. (Ezra 5:1; 6:14). Lagipula, pendahulu suku Lihyan adalah suku Dedan yang adalah keturunan Dedan cucu dari Ketura, isteri Abraham, tentu ada kaitannya dengan kaum Hanif.

 Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times, yaitu bahwa nama "ALLAH", sudah lama digunakan di kalangan suku-suku Arab, termasuk oleh orang Kristen dan berasal dari "Alaha" Aram yang dalam Kitab Ezra ditujukan kepada "Elah Yisrael". Bahasa Arab diketahui berkembang dari nabati-Aram.

Nama ALLAH atau Alla ditemukan dalam Epos Atrahasis terukir pada beberapa tablet yang berasal dari sekitar 1700 SM di Babel, yang menunjukkan bahwa ia sedang disembah sebagai dewa tertinggi di antara dewa-dewa lain yang dianggap sebagai saudara-saudaranya tetapi menuruti perintah dari Dia (Alla).

Jadi telah diketahui bahwa nama ALLAH ditujukan kepada "Alaha" Aram yang menunjuk kepada "Elah Yisrael" (ALLAH Israel).

Dari kenyataan di atas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pratulis, penggunaan nama "ALLAH" terjadi sebagai derivasi Allaha Aram, padanan/kontraksi Al-Ilah, maupun sebagai nama yang berdiri sendiri. Tetapi menarik untuk disimak bahwa di Timur Tengah, penggunaan nama ALLAH sejak awal oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen dan Islam yang berbahasa Arab telah dilakukan bersama tanpa ada masalah

NAMA ALLAH DI KALANGAN ARAB KRISTEN

Menurut Marshall Hodgson, menyebutkan  bahwa di masa pra-Islam, beberapa orang Kristen Arab berziarah ke Ka'bah yang saat itu merupakan sebuah kuil pagan untuk menghormati ALLAH sebagai ALLAH Pencipta di sana.

Beberapa pencarian penggalian arkeologi telah mengarah pada penemuan prasasti kuno dan makam yang dibuat oleh orang-orang Kristen berbahasa Arab di reruntuhan sebuah gereja di Umm el-Jimal di wilayah Jordan Utara, yang berisi referensi kepada ALLAH sebagai nama yang tepat dari kata ALLAH pra-Islam, dan beberapa kuburan yang terdapat nama-nama seperti "Abd ALLAH" yang berarti "hamba ALLAH"

Nama ALLAH juga banyak ditemukan dalam laporan dan daftar nama martir Kristen di Arabia Selatan, seperti dilansir dokumen Syria antik nama-nama para martir yang berasal dari era kerajaan  Himyarite & Aksumite.

Dalam prasasti martyrion Kristen bertanggal 512 AD, referensi kepada ALLAH dapat ditemukan dalam bahasa Arab dan bahasa Aram, yang menyebutnya "ALLAH" dan "Alaha", dan tulisan dimulai dengan pernyataan "Dengan Bantuan dari ALLAH".

Seorang pemimpin Kristen bernama Abd ALLAH ibn Abu Bakar bin Muhammad martir di Najran pada tahun 523 M, dan ia mengenakan cincin yang bertuliskan "ALLAH adalah Tuhanku"

Dalam Injil pra-Islam, nama yang digunakan untuk Tuhan adalah "ALLAH", sebagaimana dibuktikan oleh beberapa versi bahasa Arab ditemukan dari Perjanjian Baru ditulis oleh orang-orang Kristen Arab selama era pra-Islam di Saudi Utara dan Selatan.

Arab Kristen pra-Islam ditulis telah menyerukan teriakan perang "Ya La Ibad ALLAH" (Wahai hamba ALLAH) untuk memanggil satu sama lain dalam pertempuran.

"ALLAH" juga disebutkan dalam puisi Kristen pra-Islam oleh beberapa penyair Ghassanid dan Tanukhid di Suriah dan Arab Utara.

Hal ini berbeda dengan teori bahwa orang Yahudi dan Kristen Arab sebelumnya menyebut Al-Ilah dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama "ALLAH".

FAKTA SEJARAH menunjukan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama 'ALLAH' dalam Ibadat mereka. 

Nama 'ALLAH' digunakan di kalangan Arab beragama Yahudi dapat diketahui bahwa pra- Islam lahir dengan adanya Imam Sinagoga di Medinah yang bernama Abdallah bin Saba, dan di kalangan Kristen penggunaan nama 'ALLAH' juga lazim digunakan. Kekeristenan di daerah Arab sudah sudah dimulai sejak abad pertama.

Pada tahun 244 M seorang Arab Kristen  bernama "Feyleyb al-Arabi " فيليب العربي  " menjadi Kaisar Roma dan pada Konsili Nicea (325) hadir 6 uskup Arab dari kawasan imperium Romawi dan 3 uskup lainnya dari kawasan Arab non-Romawi. Hal ini menunjukan bahwa umat Kristen Arab dengan bahasa Arabnya sudah menyebar bahkan menduduki jabatan tinggi Kaisar Romawi dan Uskup jemaat Arab.

 

Peter Pacerillo, arkeolog ordo Fransiskan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad ke-4M (300 tahun sebelum Islam) dengan inskripsi "Bism Ellah al Rahmani al Rahimi" (Dalam nama ALLAH yang pengasih dan penyayang), sedangkan pada Konsili Efesus (tahun 431 M) hadir Uskup Arab bernama Abdellas (Abdullah, bandingkan dengan "Wahab ALLAH" yang diterjemahkan ke nama  Yunani sebagai "ouaballas").

 

Bambang Norsena SH yang mengambil pascasarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyatakan bahwa sebelum zaman Islam, pemakaian istilah 'ALLAH' di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan di sekitar wilayan Siria di mana nama Al-Ilah dan ALLAH disebut.

"Ada 2 inskripsi penting:

  1. inskripsi Zabad (tahun 512 / abad ke-6) yang diawali dengan rumusan"Bism al-Ilah" (Dengan nama Al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria
  2. inskripsi "Umm al-jimmal" (juga berasal dari abad ke-6 M) yang diawali dengan ucapan "ALLAHu ghafran" (ALLAH mengampuni)." (History of ALLAH, hlm 10).

 

DALAM SEJARAH AGAMA YAHUDI

KARENA Ibrani dan Arab terkait erat bahasa Semit, sudah diterima secara umum bahwa ALLAH (akar, Ilah) dan Elohim adalah derivasi berasal dari rumpun yang sama, seperti dalam Eloah kata Ibrani yang digunakan misalnya dalam Kitab Ayub ke berarti '(sang) ALLAH' dan juga 'tuhan atau dewa-dewa' seperti dalam kasus Elohim, akhirnya berasal dari akar  El, 'kuat', mungkin berasal dari El (dewa), seperti dalam LHM "anak-anak Ugaritic 'El "(kuno Timur Dekat pencipta dewa dalam tradisi pra-Ibrahimi).

Dalam kitab suci Yahudi Elohim digunakan sebagai judul deskriptif untuk Tuhan dalam kitab suci yang namanya YHWH, serta untuk dewa-dewa kafir.

 

DALAM TULISAN DAN BAHASA LAIN

Arabic:  الله‎  Allāh (termasuk Urdu, Persian/Dari, Uyghur dll)

Assamese, Bengali: আল্লাহ Allāh

Bosnian: Allāh

Chinese: 阿拉 Ālā, 安拉 Ānlā; 真主 Zhēnzhǔ (semantic translation), 胡大 Huda (Khoda, dari bahasa Persia)

Czech, Slovak: Allách

Greek: Αλλάχ Allách

Hebrew: אללה‎ Allāh

Hindi: अल्लाह Allāh

Malayalam: അള്ളാഹ് Aḷḷāh

Japanese: アラー Arā, アッラー Arrā, アッラーフ Arrāfu

Maltese: Alla

Korean: 알라 Alla

Polish: Allāh, also archaic Allach or Ałłach

Russian, Ukrainian, Bulgarian: Алла́х Allakh

Serbian, Belarusian, Macedonian: Алах Alah

Spanish, Portuguese: Alá

Thai: อัลลอฮ์ Anláw

Punjabi (Gurmukhi): ਅੱਲਾਹ Allāh, archaic ਅਲਹੁ Alahu (in Sikh scriptures)

 

SUMBER: https://www.facebook.com/notes/kumpulan-dongeng-cerita-rakyat/asal-usul-nama-allah/10151893200358756